Suhartiniblog
TUT WURI HANDAYANI ING NGARSO SUN TULODO

Sang guru dalam workshop slide 1

kenangan workshop guru mukomuko yg bikin haru

Senyuman manis dari sang guru 2

Inilah kegiatan sang guru dalam yang selalu akrab terhadap anak didik

sang guru 3

Ini salah satu kegiatan dalam kebersamaan sang guru menuju profesional

sang guru 4

kegiatan seperti workshop atau pelatihan memang sangat penting bagi sang guru.

Sang guru 5

kegiatan seperti workshop dilakukan oleh sang guru di mukomuko.

Sang guru 6

kegiatan photo bersama dalam keakraban sang guru.

Sang guru 7

kegiatan photo bersama sebagai kenangan.

sang guru 8

Ini juga bagian kebersamaan dari sang guru.

Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2012

Dua Planet Super Bumi di CoRoT-7


Sejumlah pengukuran, perhitungan dan penelitian panjang dilakukan pertama kalinya oleh HARPS untuk bisa mendapatkan hasil dan data maksimal dari exoplanet terkecil dan tercepat yang pernah ditemukan, CoRoT-7b. Hasilnya? Exoplanet ini diketahui merupakan planet super Bumi di Tata Surya asing.
Penemuan exoplanet dalam perburuan planet memang tak pernah sama. Selalu ada yang unik dan menarik dari setiap planet yang ditemukan. Hal yang sama kembali dirasakan Didier Queloz, salah sa
tu pemburu exoplanet. Baginya sains benar-benar menegangkan sekaligus luar biasa. Segalanya mereka lakukan untuk dapat mempelajari objek yang ditemukan satelit CoRoT dan hasilnya, sebuah sistem unik lainnya.

Exoplanet CoRoT-7b dan saudaranya CoRoT-7c yang tampak di kejauhan. Kredit: ESO
Bagaimana ceritanya?
Bulan Februari 2009, penemuan exoplanet terkecil pada bintang yang tak kalah luar biasa juga yang dinamai TYC 4799-1733-1 oleh satelit CoRoT diumumkan setelah satu tahun pendeteksian dan setelah beberapa bulan pengukuran dengam menggunakan berbagai teleskop di Bumi termasuk teleskop-teleskop ESO. Bintang yang sekarang dikenal sebagai CoRoT-7 berada di konstelasi Monoceros atau Unicorn pada jarak 500 tahun cahaya. Sedikit lebih kecil dan lebih dingin dibanding Matahari. Selain itu CoRoT-7 juga masih sangat muda, berusia sekitar 1,5 milyar tahun.
Exoplanet ini menggerhanai fraksi kecil cahaya bintangnya setiap 20.4 jam. Planet yang dinamai CoRoT-7b ini berada hanya 2,5 juta km dari bintang induknya atau 23 kali lebih dekat dari Merkurius ke Matahari, dengan radius 80% lebih bedar dari Bumi.
Pengukuran awal yang dilakukan sebenarnya tidak bisa menunjukan massa dari exoplanet ini. Untuk bisa mengetahui massanya dibutuhkan pengukuran yang sangat presisi dari kecepatan bintang yang ditarik oleh sejumlah kecil sentakan gravitasi dari exoplanet yang mengorbit. Masalahnya, sinyal CoRoT-7b ini sangat kecil dan dikaburkan oleh aktivitas bintang dalam bentuk bintik bintang. Bintik bintang meruoakan area yang lebih dingin pada permukaan bintang. Karena itu, sinyal utama akan terhubung pada rotasi bintang yag menyelesaikan revolusinya dalam 23 hari.
Untuk bisa medapatkan jawabannya, para astonom pun memilih untuk menggunkan alat pemburu exoplanet terbaik yang ada saat ini, yakni, spektograf the High Accuracy Radial velocity Planet Searcher (HARPS) yang dipasang pada teleskop 3.6 meter milik ESO di Observatorium La Silla, Chile.

Bahkan menurut François Bouchy, meskipun HARPS bisa dipastikan tidak terkalahkan, tapi untuk bisa mendeteksi exoplanet yang demikian mungil tetap ada tuntutan yang harus dipenuhi. Dan para astronom ini membutuhkan waktu selama 70 jam untuk mengamati bintang CoRoT-7 dan perubahan yang terjadi padanya.
Hasil pengamatan dengan HARPS menunjukkan kalau CoRoT-7b memiliki massa sekitar 5 kali massa Bumi, dan menempatkan planet ini sebagai planet pasangan yang sangat jarang seklaigus paling ringan yang pernah ditemukan. Dan karena sudah diketahui massa dan radiusnya, maka kerapatan pun berhasil didapatkan. Ini penting karena bisa memberi petunjuk tentang struktur internal planet tersebut.

Dengan massa yang mendekati massa Bumi maka, CoRoT-7b ini digolongkan sebagai exoplanet super Bumi. Memag ada sejumlah planet super-Bumi yang dideteksi, namun untuk pertama kalinya kerapatan planet berhasil ditentukan khususnya untuk planet semungil CoRoT-7b ini. Perhitungan yang dilakukan menunjukkan kerapatannya tak berbeda jauh dari Bumi, dngan demikian bisa disimpulkan komposisinya pun sama yakni planet Batuan.
CoRoT-7b juga mendapatkan penghormatan lain berupa exoplanet terdekat dengan bintang induknya di antara sistem yang sudah kita ketahui saat ini. Tak hanya itu, ia juga menjadi planet tercepat yang mengorbit bintangnya dengan kecepatan 750 000 km/jam, atau lebih dari 7 kali lebih cepat dari gerak Bumi mengelilingi Matahari.

Seperti apakah kondisi di exoplanet CoRoT-7b ?
Exoplanet yang demikian dekat dengan bintangnya ini, tentunya panas sekali. Bahkan bisa dikatakan exoplanet ini akan tampak seperti neraka dengan temperatur pada “area siang” di atas 2000 derajat Celcius dan minus 200 derajat Celcius untuk wajah malamnya. Model teoretik menunjukkan kalau planet ini memiliki lava atau lautan mendidih di permukaannya. Nah, dengan kondisi yang sedemikian ekstrim tentu bisa disimpulkan kalau kehidupan tak akan bisa berkembang disana.
Data yang didapatkan dari pengamatan dengan HARPS menunjukkan kalau bintang CoRoT-7 masih memiliki exoplanet lainnya yang berada sedkit lebih jauh dari CoRoT-7b. Dikenal sebagai CoRoT-7c, ia mengelilingi bintangnya dalam 3 hari 17 jam dan memiliki massa 8 kali massa Bumi. Dan exoplanet ini pun digolongkan sebagai planet super Bumi.

Sayangnya, tidak seperti saudaranya, CoRoT-7c tidak melewati bagian depan bintang yang terlihat dari Bumi sehingga para astronom masih belum bisa mengukur radius dan kerapatannya.
CoRoT-7 saat ini merupakan bintang pertama yang memiliki sistem keplanetan dengan 2 planet super Bumi yang salah satunya melakukan transit pada sang bintang.

 http://kumpul4ntul1s4n.wordpress.com/2011/05/05/dua-planet-super-bumi-di-corot-7/

Tiga Planet Mirip Bumi


Washington – Tiga planet mirip bumi tetapi dengan massa yang lebih besar telah ditemukan, ketiganya mengorbit pada bintang di dekatnya. selain itu tim peneliti ini menyatakan juga menemukan dua tata surya lain.
Tim eropa tersebut mengatakan, temuan ini menunjukkan bahwa planet mirip bumi mungkin saja sangat banyak di jagat raya ini. “akankah itu berarti tiap bintang pasti dikelilingi planet-planet?” kita belum bisa menjawab pertanyaan itu sekarang jelas Michel Mayor dari Geneva Observatory di Swiss.
Ketiga plane
t mirip bumi ini mengorbit pada sebuah bintang yang sedikit lebih kecil daripada matahari. letak bintang itu sekitar 42 tahun cahaya di sebelah selatan konstelasi Doradus dan Pictor. 1 tahun cahaya sendiri sekitar 9.460.800.000.000 km perlu kendaraan super cepat agar bisa sampe kesana.

Planet-planet ini ukurannya lebih besar daripada bumi, planet pertama ukurannya 4,2 kali bumi, yang kedua 6,7 kali bumi dan yang ketiga 9,4 kali bumi. kecepatan mengorbit mereka luar biasa. yang paling cepat mengorbit dalam 4 hari saja, yang ke dua dalam waktu 10 hari dan yang paling lambat adalah 20 hari. bandingkan dengan bumi yang mengorbit matahari dalam waktu 365 hari.
Sumber :http://kumpul4ntul1s4n.wordpress.com/2011/05/05/tiga-planet-mirip-bumi/

Mengurai Misteri dan Potensi Planet Super Bumi

Era tahun 1995 menjadi tonggak dimulainya pencarian planet baru di luar Tata Surya saat sebuah planet ditemukan di bintang 51 Pegasi, bintang yang mirip Matahari. Jauh sebelum itu memang telah ditemukan planet yang mengelilingi Pulsar, namun keberadaan planet lain di sekitar bintang serupa Matahari menjadi awal perburuan planet-planet di luar Tata Surya. Sejak saat itu, sudah 342 planet yang ditemukan.
Saat perburuan dimulai, planet-planet yang ditemukan hanyalah planet gas masif yang mirip Jupiter. Namun, perkembangan teknik
pengamatan masa kini telah membawa manusia pada perburuan planet serupa Bumi yang lebih kecil. Planet batuan serupa Bumi di luar Tata Surya bukan lagi sebuah mimpi yang menanti untuk disingkap, karena saat ini satu per satu planet seperti itu berhasil ditemukan dan dikenal dengan nama Super Bumi.

Planet Super Bumi merupakan planet yang massanya sekitar 10 kali massa Bumi, karena jika lebih, si planet akan cenderung menjadi planet gas seperti Uranus dan Neptunus. Tak seperti planet gas raksasa, ukuran Super Bumi cukup kecil untuk memiliki permukaan tanah maupun lautan yang memungkinkan untuk mendukung kehidupan. Sampai saat ini, planet Super Bumi yang ditemukan masih belum bisa menjadi tempat liburan alias belum bisa mendukung kehidupan untuk ada di dalamnya. Pencarian masih terus dilakukan, dan tak bisa dipungkiri, suatu saat nanti mungkin saja kita akan menemukan sebuah planet yang memiliki komposisi kimia yang tepat dan jarak yang pas dari bintang induk untuk dapat mendukung berlangsungnya kehidupan di dalam planet tersebut.

Bagaimanakah kehidupan di planet Super Bumi?

Yang pertama, massa planet Super Bumi memang 10 kali massa Bumi. Namun, tak berarti ia akan memiliki diameter 10 kali lebih besar dari Bumi. Hubungan tak linier antara massa dan ukuran planet membuat planet Super Bumi akan memiliki ukuran lebih kecil. Dan jika kita bisa mengunjungi planet Super Bumi, maka kita akan merasa lebih berat. Kok bisa? Ternyata, ini dipengaruhi gravitasi planet Super Bumi yang lebih besar. Selain itu, planet Super Bumi juga memiliki atmosfer yang lebih tebal dan rapat.

Dengan mengesampingkan berbagai perbedaan, pada kondisi yang tepat Planet Super Bumi akan dapat melabuhkan kehidupan di dalamnya. Yang pasti bukan kehidupan seperti misalnya permainya pohon kelapa di pantai atau mungkin kehidupan seperti manusia. Namun, resep yang pas tersebut akan memberi kesempatan pada kehidupan untuk tumbuh dan berkembang, apa pun bentuknya.
Dan, ketika planet Super Bumi semakin banyak ditemukan, kesempatan untuk menemukan planet serupa Bumi hanya tinggal menunggu hitungan waktu.

Planet Kebumian atau Bukan ?
Ilustrasi exoplanet kebumian saat melintasi bintang induk disertai kurva cahayanya. Kredit : NASA
Bagaimanakah para peneliti bisa mengetahui sebuah planet memiliki permukaan batuan seperti Bumi dan Mars? Bagaimana mereka membedakannya dari planet gas raksasa seperti Saturnus dan Neptunus?
Jawabannya, ketika sebuah planet melintas atau transit di depan bintang induknya, ia akan menghalangi sejumlah cahaya dari bintang. Pada saat itu, bintang akan sedikit meredup.

Ketika sebuah planet gas raksasa melintas, cahaya bintang induk akan berangsur-angsur meredup. Peredupan cahaya bintang terjadi saat cahaya bintang harus melewati lapisan gas tebal di atmosfer sampai seluruh planet berada di depan si bintang. Namun, untuk planet kebumian, atmosfernya lebih tipis sehingga proses meredupnya cahaya bintang terjadi lebih cepat saat planet bergerak melintasi bintang induk.

Pada saat planet melintasi bintang, cahaya bintang yang melewati atmosfer si planet akan dapat ditelaah oleh para peneliti untuk mengetahui keberadaan komponen kimia yang bisa menjadi petunjuk kehidupan di planet tersebut.

Sumber : Planet Quest NASA

Teori kehancuran bumi tahun 2052 / 2053: Tabrakan planet

Menurut para ilmuan NASA
Para Ilmuwan NASA pernah mengatakan bahwa sudah banyak  planet yang berbalik arah putar, jika pada planet bumi kita ini matahari masih terbit dari arah timur, maka beberapa tahun  ini terdapat fenomena baru yang menurut mereka planet lain sudah mulai berbalik arah dan matahari terbit dari arah barat. Menurut para ilmuwan dari sekian banyak planet yang berbalik arah putar, mereka  menemukan adanya planet dari galaxy lain yang bergerak memasuki orbit dalam solar sistem kita. Planet baru ini kemudian  diberi nama PLANET X (NIBIRU).

Planet X ini tertarik (ditarik) oleh gaya gravitasi matahari yang besar dalam tata surya kita, sehingga  kemudian ia masuk ke dalam orbit planet-planet dalam keadaan berbalik arah, dan suatu masa nanti  planet X akan bertabrakan dengan bumi. Ilmuwan menyebut 50 tahun lagi planet X (Nibiru) ini akan  memasuki orbit tata surya kita, sejak ia ditemukan tahun 2003 lalu, dan akan bertabrakan dengan bumi sekitar tahun 2052 atau 2053. Bencana dahsyat bumi itu diperkirakan karena Planet X melintasi tata surya. Planet X pada masa ini  memang sedang melewati orbit bumi. Planet X itu adalah planet humongous (tak terkira besarnya) yang  memiliki massa seratus kali lipat lebih besar daripada bumi. Inti magnetisnya sedemikian dahsyat  kekuatannya sehingga bertabrakan dengan medan-medan magnet planet lain dalam tata surya. Gangguan elektromagnetis atas planet-planet lainnya itulah yang mendasari para ahli perbintangan modern melacak eksistensi Planet X. Perubahan itu memang dapat dianggap disebabkan oleh melintasnya Planet X. Apapun dugaannya, yang pasti, dari penelitian terakhir barulah dapat diketahui bahwa Planet X itu benar-benar terdeteksi sebagai penyebab perubahan maha dahsyat di bumi secara positif.
Bagaimana mungkin planet yang sedemikian jauhnya dapat memicu perubahan cuaca dan efek-efek bumi lainnya yang terkait? Matahari yang mengatur medan magnet bumi terhalang oleh lintasan Planet X. Gerakan Planet X yang  memasuki tata surya telah menyebabkan inti bumi memanas akibat adanya tambahan gerakan berputar di  dalamnya. Saat inti bumi terpengaruh menyelaraskan dirinya dengan ekuilibrium yang ada dalam tata  surya, inti bumi yang memanas itulah yang membawa pada pola-pola cuaca yang tak dapat diperkirakan  dan meningkatkan aktifitas gunung-gunung berapi serta seismik. Inti bumi yang memanas mengakibatkan peningkatan bertahap pada aktifitas seismik dan gunung berapi.  Gempa-gempa pun sering terjadi. Daerah pegunungan terancam bahaya lahar. Panas dari inti bumi juga  dikeluarkan melalui selimut bumi dan pada akhirnya mencapai lapisan bumi di mana dasar laut pun ikut  menghangat. Laut-laut yang menghangat akan membuat perubahan pada arus-arus laut, curah hujan dan  pola-pola meteorologis lainnya.


Sumber:
 http://kumpul4ntul1s4n.wordpress.com/2011/05/05/teori-kehancuran-bumi-tahun-2052-2053-tabrakan-planet/

Mencairnya Methane Hydrates

Pemanasan Global juga membawa satu potensi bencana besar bagi planet kita, yaitu mencairnya Methane Hydrates: Metana beku yang tersimpan dalam bentuk es. Jumlahnya cukup mencengangkan 3.000 kali dari metana yang saat ini ada di atmosfer.
Planet bumi menyimpan metana beku dalam jumlah yang sangat besar; disebut dengan Methane Hydrates atau Methane Clathrates. Methane Hydrates banyak ditemukan di kutub utara dan kutub selatan, dimana suhu permukaan air kurang dari 0 Celcius, atau dasar laut pada kedalaman lebih dari 300 meter, dimana temperatur air ada di kisaran 0 Celcius. Methane Hydrates juga ditemukan di danau-danau yang Baikal di Siberia.

Metana adalah gas dengan emisi rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2), yang berarti gas ini kontributor yang sangat buruk bagi pemanasan global yang sedang berlangsung. Berita buruknya adalah pemanasan global membuat suhu es di kutub utara dan kutub selatan menjadi semakin panas, sehingga metana beku yang tersimpan dalam lapisan es di kedua kutub tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer. Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton Metana beku, dan gas ini dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di antartika yang runtuh. Anda bisa membayangkan betapa mengerikannya keadaan ini: Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan es¬nya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer! Ini belum termasuk Metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair karena makin panasnya suhu lautan akibat pemanasan global.
Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah sehingga mungkin dapat disetarakan dengan kiamat!.
Apakah ini fantasi yang dibuat­buat oleh aktifis lingkungan dan ilmuwan-ilmuwan paranoid? sayangnya tidak. Bukti-bukti geologi yang kuat menyatakan sedikitnya sudah dua kali planet kita mengalami kejadian ini.
Para ahli geologi menemukan bahwa malapetaka besar ini pernah terjadi kurang lebih 55 juta tahun lalu yang disebut oleh para ilmuwan sebagai Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM). Saat itu semburan metana naik ke permukaan sehingga mengakibatkan pemanasan planet dengan sangat cepat dan menyebab­kan kematian massal,kemudian mengganggu keadaan iklim bumi hingga 100.000 tahun kemudian.

Selain PETM, malapetaka besar ini juga pernah terjadi 250 juta tahun lalu, pada akhir dari periode Permian, dimana semburan metana menyapu bersih hampir seluruh kehidupan di planet bumi.

Lebih dari 94% spesies laut yang sekarang kita jumpai sebagai fosil mengalami kepunahan mendadak karena turunnya level oksigen. Lebih dari 500.000 tahun kemudian, beberapa spesies yang tersisa berjuang untuk bertahan di lingkungan yang tidak bersahabat tersebut.
Lalu bagaimana dengan keadaan kita sekarang? Dengan deposit metana beku yang luar biasa banyak, dengan makin besarnya wilayah es abadi di kutub yang mencair, dengan makin panasnya suhu lautan, dan dengan ditemukannya beberapa titik dimana metana beku mulai menyembur ke permukaan bumi. Maka kita sangat patut untuk khawatir!.

Sudah saatnya bagi kita untuk turut andil dalam usaha menghentikan pemanasan global yang terus terjadi. Sudah dibuktikan bahwa kita manusialah penyebab/kontributor utama pemanasan global yang dialami planet kita. Marilah kita segera bertindak! Jangan sampai kita mengulangi sejarah geologi yang kelam yang pernah dialami planet ini!.
 
Mencairnya es abadi di Siberia: krisis iklik global yang Kian Mengkhawatirkan
Daerah barat Siberia memiliki daerah kolam berlumpur seluas Perancis dan Jerman yang beku oleh es abadi. Daerah ini mengandung tidak kurang dari 70 miliar ton metana beku di dalamnya!.
Peneliti Sergei Kirpotin dari Tomsk State University di Siberia dan Judith Marquand dari Universitas Oxford pada tahun 2005 melaporkan bahwa satu juta kilometer persegi es abadi di sana telah mulai mencair.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada majalah Nature edisi ke-7 yang ditulis oleh Katey Walter dari University of Alaska dan Jeff Chanton dari Florida State University melaporkan bahwa kecepatan proses terlepasnya metana ke udara karena mencairnya es di Siberia ini mencapai lima kali lebih cepat dari perkiraan para ilmuwan sebelumnya.

Sebagaimana kita ketahui, metana memiliki emisi gas rumah kaca 23 kali lebih buruk dari CO2. Lebih banyak metana yang terlepas ke atmosfer berarti makin parah pula pemanasan global yang kita alami. Sudah saatnya kita sebagai penduduk dunia untuk melakukan tindakan nyata untuk menghentikan semua proses yang mengarah pada kehancuran ini.



 http://kumpul4ntul1s4n.wordpress.com/2011/05/05/mencairnya-methane-hydrates/#more-50